Wednesday, 24 November 2010

Day #4 : Yang Baru Diketahui

Banyak hal baru yang saya temui di...komputer adik saya =))
Karena sudah diizinkan untuk memakai komputernya, maka saya pun memakai
komputer adik saya untuk keperluan :
1. Nonton tv disaat tesis
2. Denger radio disaat channel tv ga ada yang rame saat tesis
3. Maen plant vs zombie disaat sedang running software untuk tesis
4. Nonton HIMYM season 6 dan download episode terbarunya disaat suntuk tesis
5. Iseng aja pengen ngoprek

nah dari yang poin 5 ini, yang saya temui di komputer adik saya adalah, banyaknya spreadsheet buatan dia tentang perhitungan atau estimasi dia dalam beberapa games online di facebook seperti Mafia Wars dan Car Town.

Kebetulan car town saya sendiri beberapa bulan yang lalu sempat main, dan sempat juga membuat spreadsheet tentang estimasi profit di game tersebut. Namun saya kaget melihat spreadsheet buatan adik saya. Jika dilihat dari layout,fungsi,dll di spreadsheet dia. Semuanya lebih komprehensif dan mendetail (pantas saja level cartown dia tidak pernah terkejar oleh saya).

Saya memang tahu bahwa adik saya itu otaknya encer, dan ketika melihat spreadsheet dia dan juga tata pengaturan folder di komputernya. Dia orangnya cukup teroganisir dan sepertinya sangat fokus. Berbeda dengan saya kakaknya yang serba berantakan dan susah sekali untuk fokus. No wonder, adik saya sekarang berprofesi di Research and Development'nya SAMSUNG.

sumber : Cartoonstock

Hal menarik lain yang saya temukan adalah beberapa video SNSD. Karena penasaran apa sih SNSD, dan perasaan dulu sempet heboh di forum multimedia kampus, jadi saya bukalah video2 tersebut. Ternyata ini adalah video girl band asal Korea Selatan.

Saya sebenernya tidak suka dengan musik yang liriknya tidak saya mengerti kecuali Rammstein.

Hanya saja video SNSD ini cukup menarik karena isinya 9 Gadis Oriental pake hotpants terus joget-joget, dengan wajah tiap personelnya yang semuanya mirip (from my POV, They're all look the same), dan THANK GOD semuanya enak dilihat, tidak ada yang kalo dilihat-lihat eneg :D

sumber : http://www.kpoplive.com/wp-content/uploads/2010/08/snsd-14.jpg

Tuesday, 23 November 2010

Day #3 : Cintailah Produk Dalam Negeri

Beberapa hari yang lalu saya berbincang-bincang dengan kedua orang tua saya saat makan malam. Saat itu kami membicarakan mengenai jurusan/program studi saya yang berusaha untuk mendapatkan akreditasi dari Amerika Serikat.

Jika program studi saya berhasil, maka program studi ini akan menjadi jurusan/program studi pertama di Asia Tenggara yang memiliki akreditasi dari Amerika Serikat. Ayah saya bilang, sebenarnya ada 3 jurusan yang dibiayai oleh kampus untuk mengajukan akreditasi.

Jurusan itu tidak termasuk jurusan saya. Jurusan saya maju dengan kemauan sendiri. Dari 3 jurusan yang siap dibiayai oleh kampus, hanya 1 jurusan yang maju. Sisanya menyatakan belum siap. Tetapi ternyata saat ini, jurusan yang maju untuk akreditasi tersebut sudah menyatakan mundur. Jadi sekarang tinggal jurusan saya saja yang masih terus berjuang untuk mendapatkan akreditasi tersebut.

Saya berpikir, jika memang akreditasi dari Amerika Serikat ini begitu bergengsi kenapa jurusan saya menjadi yang pertama di Asia Tenggara? Padahal banyak Universitas lain dengan jurusan engineering dari Singapura dan Malaysia yang sudah lebih canggih.

Ayah saya bilang, temannya seorang profesor di Malaysia pernah mengatakan bahwa prioritas utama mereka dalam akreditasi adalah akreditasi dari negaranya sendiri. Karena menurut beliau semua yang dari dalam negeri sendiri itu yang paling bagus, karena itu mereka fokus disana.

Kemudian, untuk mendapatkan pengakuan internasional barulah mereka mengajukan supaya mendapatkan akreditasi internasional. Dan karena Malaysia hubungannya erat dengan Inggris, maka akreditasi internasional yang mereka ajukan ke Inggris bukan Amerika. Kemudian setelah terakreditasi oleh badan akreditasi dari Inggris, barulah mereka akan mengajukan untuk akreditasi dari Amerika Serikat.

Tetapi intinya, mereka lebih fokus untuk yang dalam negeri dahulu. Bagi mereka, akreditasi internasional hanya untuk pengakuan dunia internasional semata. Mereka lebih membanggakan jika sudah terakreditasi dengan predikat sangat baik dari badan akreditasi dalam negeri mereka.

Setelah percakapan dengan kedua orang tua saya tersebut, kemudian saya berpikir pantas saja Malaysia itu maju. Sebagus-bagusnya produk dari luar, mereka tetap punya mindset bahwa produk dalam negeri merekalah yang paling baik.

Saya tidak mengatakan bahwa jurusan saya terlalu lebay dalam menghadapi ini. Justru ini bagus, karena semua elemen di jurusan saya mulai dari dosen,mahasiswa,hingga karyawan semuanya bekerja sama.

Saya juga bukan ingin menyanjung Malaysia, negara tetangga kita yang sering membuat onar di perbatasan dan juga hobi mengklaim produk budaya lokal kita. Ini memang terdengar klise, tetapi salah satu upaya untuk memajukan Indonesia adalah dengan mulai mencintai produk-produk dalam negeri sendiri.

Karena itu cintailah produk-produk Indonesia (bergaya bahasa seperti engkong-engkong di iklan TV M*spi*n)

Monday, 22 November 2010

Day #2 : Baru Hari Kedua Nih

Baru hari kedua dari program 30 Hari Menulis.
Sudah hampir setengah jam saya didepan notebook.
Tulis judul
Ketak ketik ketak ketik...block...delete
ketak ketik ketak ketik...block...delete
Hapus judul...tulis lagi
ketak ketik ketak ketik...sudah 2 paragraf
block all...delete.
ketak ketik ketak ketik...paragraf 3 setengah jalan
block all...delete.

Saya bingung dengan apa yang mau saya tulis.
Ketika ada ide, saya tulis...saya baca kembali.
kemudian saya berpikir, tulisan ini tidak jelas
kemana arahnya.

Bingung. Baru hari kedua kawan.
Semoga besok dapat ide.

Ps : posting Day #1 saya tulis dan post hari minggu dini hari, tetapi tanggal yang tertera di blog hari sabtu. Hmm apa saya yang salah jam ya? masa belum apa2 sudah keskip satu hari sih? o_O"

Saturday, 20 November 2010

Day #1 : Sombong

Baru di semester ini saya menghadapi seorang dosen tamu yang sombongnya amit-amit jabang bayi.

sumber: http://www.nicholsoncartoons.com.au/cartoon_5319.html

Dia mengklaim bahwa dirinya adalah satu-satunya ahli teknologi d**pw*t*r (sensor biar ga terlalu frontal) di Indonesia.

Direncanakan ada 5 sesi kuliah dengan si dosen tamu ini. Kuliah pertama introduction (wajar), kuliah kedua (sesi 2 & 3) di Jakarta dia malah ngasih materi yang sudah dipelajari semester sebelumnya. Seolah-olah dia tidak mempercayai kredibilitas dosen-dosen di kampus saya dalam mengajar materi-materi itu.

Manfaat yang didapat dari bela-belain kuliah ke Jakarta waktu itu, jadi tau lokasi Pacific Place karena waktu itu kesasar.

Kuliah ketiga (sesi 4), barulah masuk ke materi tentang d**pw*t*r nya. Coba kalau dari sesi 2 sudah dimulai, pasti banyak yang bisa didapat walaupun harus bela-belain dengerin blah-blohnya dia yg suka OOT.

Yang bikin sebel lagi adalah, pada kuliah ketiga. Kami sebagai peserta kuliah berinisiatif untuk menjamu si dosen tamu ini, kami menyediakan makan siang dengan dana patungan dari seluruh peserta kuliah.

Apa respon dari beliau? "Kamu ngapain pake nyiapin makan siang segala? Kalau kalian ke Jakarta, iya kalian saya jamu makan siang. Kalian ga usah ikut-ikutan!"

Respon yang menurut saya cukup mengejutkan, arogan dan sangat tidak sopan. Bahkan dalam konteks percakapan antara orang yang lebih tua dengan kami yang lebih muda, perkataan seperti itu tentu tidak enak untuk didengar.

Teman - teman yang duduk bersebelahan sama saya pun terdengar menggumam "sombongnya minta ampun."

Dalam benak saya, dan tentu saja saya tweet juga :D yang intinya. A simple thanks would be nice!

Baru kali ini saya bertemu orang seperti ini.
Setelah saya pikir-pikir, mending diambil sisi positifnya saja.
Kedepannya bukan tidak mungkin saya akan berhadapan dengan orang-orang berkarakter seperti ini.

Semoga kalau nanti saya sudah berilmu tinggi (emangnya film silat, ilmu tinggi) tidak bersikap seperti si dosen tamu ini.
Seandainya sikap saya mulai sombong dan tidak mengenakan, saya mohon keikhlasan teman-teman membantu saya untuk mengingatkan saya.

Friday, 19 November 2010

30 Hari Menulis

Terinspirasi dari blog milik Maradilla Syachridar, Brainmelosa tentang 30 Hari Menulis. Saya akhirnya berinisiatif juga untuk melakukan hal yang sama. Tujuannya? Saya ingin mengetahui seberapa konsisten diri saya dalam hal menulis, menuangkan ide dalam tulisan, sekedar berbasa-basi dalam tulisan, dll. Saya ingin memacu diri saya untuk meluangkan sedikit waktu untuk menulis ditengah kesibukan saya menyusun master tesis saya.

Saya memulai program 30 Hari Menulis ini boleh dibilang terlambat dibanding para pencetusnya, Theoresia Rhumte dan Maradilla Syachridar. Tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?
Boleh dibilang ini adalah ujian bagi saya untuk menunjukkan seberapa konsisten saya dalam menulis.

Yes, let's rock n roll!

Thursday, 18 November 2010

Berbenah

Pada posting pertama saya di blog ini, ditulis dengan jelas bahwa saya nutup blog lama dan buka blog baru karena blog lama berantakan.
Ternyata blog baru ini juga ga ada bedanya, label blog berantakan. Terlalu banyak label, karena tiap posting selalu dikasih label semau saya.
Alhamdulillah, postingan di blog ini baru sedikit. Kebanyakan isinya draft semua.
Maka dari itu masih relatif mudah dan cepat untuk merapihkan label2 yang ada.

Sekarang tinggal gimana caranya rajin untuk nulis ;p

Monday, 15 November 2010

Bermain Tuhan?

Lagu ini memang bukan lagu baru Seringai.
Menurut saya lagu ini memang menggambarkan situasi di negara kita.
Seperti praktek kekerasan di jalanan dengan berlindung dibalik agama,
menghalangi jamaah agama lain untuk beribadah (juga dengan kekerasan).

Apakah semua sudah lupa dengan semboyan negara kita "Bhinneka Tunggal Ika" ?
Apakah "Toleransi dan kerukunan umat beragama" hanyalah sebuah kalimat yang sering dijumpai di pelajaran pendidikan moral di sekolah-sekolah?
Apakah keanekaragaman budaya dan kepercayaan di Indonesia yang dulu dibanggakan, dianggap produk orde baru sehingga harus dibuang?

Seringai - Bermain Tuhan
Album : Serigala Militia



Lirik :

Individu, individu merdeka.

Selamat datang di era kemunduran,
pikiran tertutup jadi andalan.
Praduga tumbuh tenteram,
menghakimi sepihak, sebar ketakutan.

Membakukan persepsi, bukan jadi jawaban
atau gagasan bijak.
Selangkah maju ke depan,
empat langkah ke belakang,
kita takkan beranjak.

Mereka, bermain Tuhan.
Merasa benar, menjajah nalar.
Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya.

Individu, individu merdeka.

Selamat tinggal, era kemajuan,
lupakan harapan dan kehidupan.
Menjauh dari akar masalah,
mendekatkan kepada kebodohan yang dipertahankan.

Privasi. Seni.
Siapa engkau yang menghakimi?
Masih banyak masalah, dan lebih krusial,
tidak bicara asal.

Mereka bermain Tuhan.
Merasa benar, menjajah nalar.
Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya.

"Sudahkah merdeka? Sudahkah dirimu merdeka?"

Individu, individu merdeka."