Baru hari kedua dari program 30 Hari Menulis.
Sudah hampir setengah jam saya didepan notebook.
Tulis judul
Ketak ketik ketak ketik...block...delete
ketak ketik ketak ketik...block...delete
Hapus judul...tulis lagi
ketak ketik ketak ketik...sudah 2 paragraf
block all...delete.
ketak ketik ketak ketik...paragraf 3 setengah jalan
block all...delete.
Saya bingung dengan apa yang mau saya tulis.
Ketika ada ide, saya tulis...saya baca kembali.
kemudian saya berpikir, tulisan ini tidak jelas
kemana arahnya.
Bingung. Baru hari kedua kawan.
Semoga besok dapat ide.
Ps : posting Day #1 saya tulis dan post hari minggu dini hari, tetapi tanggal yang tertera di blog hari sabtu. Hmm apa saya yang salah jam ya? masa belum apa2 sudah keskip satu hari sih? o_O"
Monday, 22 November 2010
Saturday, 20 November 2010
Day #1 : Sombong
Baru di semester ini saya menghadapi seorang dosen tamu yang sombongnya amit-amit jabang bayi.
sumber: http://www.nicholsoncartoons.com.au/cartoon_5319.html
Dia mengklaim bahwa dirinya adalah satu-satunya ahli teknologi d**pw*t*r (sensor biar ga terlalu frontal) di Indonesia.
Direncanakan ada 5 sesi kuliah dengan si dosen tamu ini. Kuliah pertama introduction (wajar), kuliah kedua (sesi 2 & 3) di Jakarta dia malah ngasih materi yang sudah dipelajari semester sebelumnya. Seolah-olah dia tidak mempercayai kredibilitas dosen-dosen di kampus saya dalam mengajar materi-materi itu.
Manfaat yang didapat dari bela-belain kuliah ke Jakarta waktu itu, jadi tau lokasi Pacific Place karena waktu itu kesasar.
Kuliah ketiga (sesi 4), barulah masuk ke materi tentang d**pw*t*r nya. Coba kalau dari sesi 2 sudah dimulai, pasti banyak yang bisa didapat walaupun harus bela-belain dengerin blah-blohnya dia yg suka OOT.
Yang bikin sebel lagi adalah, pada kuliah ketiga. Kami sebagai peserta kuliah berinisiatif untuk menjamu si dosen tamu ini, kami menyediakan makan siang dengan dana patungan dari seluruh peserta kuliah.
Apa respon dari beliau? "Kamu ngapain pake nyiapin makan siang segala? Kalau kalian ke Jakarta, iya kalian saya jamu makan siang. Kalian ga usah ikut-ikutan!"
Respon yang menurut saya cukup mengejutkan, arogan dan sangat tidak sopan. Bahkan dalam konteks percakapan antara orang yang lebih tua dengan kami yang lebih muda, perkataan seperti itu tentu tidak enak untuk didengar.
Teman - teman yang duduk bersebelahan sama saya pun terdengar menggumam "sombongnya minta ampun."
Dalam benak saya, dan tentu saja saya tweet juga :D yang intinya. A simple thanks would be nice!
Baru kali ini saya bertemu orang seperti ini.
Setelah saya pikir-pikir, mending diambil sisi positifnya saja.
Kedepannya bukan tidak mungkin saya akan berhadapan dengan orang-orang berkarakter seperti ini.
Semoga kalau nanti saya sudah berilmu tinggi (emangnya film silat, ilmu tinggi) tidak bersikap seperti si dosen tamu ini.
Seandainya sikap saya mulai sombong dan tidak mengenakan, saya mohon keikhlasan teman-teman membantu saya untuk mengingatkan saya.
Dia mengklaim bahwa dirinya adalah satu-satunya ahli teknologi d**pw*t*r (sensor biar ga terlalu frontal) di Indonesia.
Direncanakan ada 5 sesi kuliah dengan si dosen tamu ini. Kuliah pertama introduction (wajar), kuliah kedua (sesi 2 & 3) di Jakarta dia malah ngasih materi yang sudah dipelajari semester sebelumnya. Seolah-olah dia tidak mempercayai kredibilitas dosen-dosen di kampus saya dalam mengajar materi-materi itu.
Manfaat yang didapat dari bela-belain kuliah ke Jakarta waktu itu, jadi tau lokasi Pacific Place karena waktu itu kesasar.
Kuliah ketiga (sesi 4), barulah masuk ke materi tentang d**pw*t*r nya. Coba kalau dari sesi 2 sudah dimulai, pasti banyak yang bisa didapat walaupun harus bela-belain dengerin blah-blohnya dia yg suka OOT.
Yang bikin sebel lagi adalah, pada kuliah ketiga. Kami sebagai peserta kuliah berinisiatif untuk menjamu si dosen tamu ini, kami menyediakan makan siang dengan dana patungan dari seluruh peserta kuliah.
Apa respon dari beliau? "Kamu ngapain pake nyiapin makan siang segala? Kalau kalian ke Jakarta, iya kalian saya jamu makan siang. Kalian ga usah ikut-ikutan!"
Respon yang menurut saya cukup mengejutkan, arogan dan sangat tidak sopan. Bahkan dalam konteks percakapan antara orang yang lebih tua dengan kami yang lebih muda, perkataan seperti itu tentu tidak enak untuk didengar.
Teman - teman yang duduk bersebelahan sama saya pun terdengar menggumam "sombongnya minta ampun."
Dalam benak saya, dan tentu saja saya tweet juga :D yang intinya. A simple thanks would be nice!
Baru kali ini saya bertemu orang seperti ini.
Setelah saya pikir-pikir, mending diambil sisi positifnya saja.
Kedepannya bukan tidak mungkin saya akan berhadapan dengan orang-orang berkarakter seperti ini.
Semoga kalau nanti saya sudah berilmu tinggi (emangnya film silat, ilmu tinggi) tidak bersikap seperti si dosen tamu ini.
Seandainya sikap saya mulai sombong dan tidak mengenakan, saya mohon keikhlasan teman-teman membantu saya untuk mengingatkan saya.
Friday, 19 November 2010
30 Hari Menulis
Terinspirasi dari blog milik Maradilla Syachridar, Brainmelosa tentang 30 Hari Menulis. Saya akhirnya berinisiatif juga untuk melakukan hal yang sama. Tujuannya? Saya ingin mengetahui seberapa konsisten diri saya dalam hal menulis, menuangkan ide dalam tulisan, sekedar berbasa-basi dalam tulisan, dll. Saya ingin memacu diri saya untuk meluangkan sedikit waktu untuk menulis ditengah kesibukan saya menyusun master tesis saya.
Saya memulai program 30 Hari Menulis ini boleh dibilang terlambat dibanding para pencetusnya, Theoresia Rhumte dan Maradilla Syachridar. Tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?
Boleh dibilang ini adalah ujian bagi saya untuk menunjukkan seberapa konsisten saya dalam menulis.
Yes, let's rock n roll!
Saya memulai program 30 Hari Menulis ini boleh dibilang terlambat dibanding para pencetusnya, Theoresia Rhumte dan Maradilla Syachridar. Tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?
Boleh dibilang ini adalah ujian bagi saya untuk menunjukkan seberapa konsisten saya dalam menulis.
Yes, let's rock n roll!
Thursday, 18 November 2010
Berbenah
Pada posting pertama saya di blog ini, ditulis dengan jelas bahwa saya nutup blog lama dan buka blog baru karena blog lama berantakan.
Ternyata blog baru ini juga ga ada bedanya, label blog berantakan. Terlalu banyak label, karena tiap posting selalu dikasih label semau saya.
Alhamdulillah, postingan di blog ini baru sedikit. Kebanyakan isinya draft semua.
Maka dari itu masih relatif mudah dan cepat untuk merapihkan label2 yang ada.
Sekarang tinggal gimana caranya rajin untuk nulis ;p
Ternyata blog baru ini juga ga ada bedanya, label blog berantakan. Terlalu banyak label, karena tiap posting selalu dikasih label semau saya.
Alhamdulillah, postingan di blog ini baru sedikit. Kebanyakan isinya draft semua.
Maka dari itu masih relatif mudah dan cepat untuk merapihkan label2 yang ada.
Sekarang tinggal gimana caranya rajin untuk nulis ;p
Monday, 15 November 2010
Bermain Tuhan?
Lagu ini memang bukan lagu baru Seringai.
Menurut saya lagu ini memang menggambarkan situasi di negara kita.
Seperti praktek kekerasan di jalanan dengan berlindung dibalik agama,
menghalangi jamaah agama lain untuk beribadah (juga dengan kekerasan).
Apakah semua sudah lupa dengan semboyan negara kita "Bhinneka Tunggal Ika" ?
Apakah "Toleransi dan kerukunan umat beragama" hanyalah sebuah kalimat yang sering dijumpai di pelajaran pendidikan moral di sekolah-sekolah?
Apakah keanekaragaman budaya dan kepercayaan di Indonesia yang dulu dibanggakan, dianggap produk orde baru sehingga harus dibuang?
Seringai - Bermain Tuhan
Album : Serigala Militia
Lirik :
Individu, individu merdeka.
Selamat datang di era kemunduran,
pikiran tertutup jadi andalan.
Praduga tumbuh tenteram,
menghakimi sepihak, sebar ketakutan.
Membakukan persepsi, bukan jadi jawaban
atau gagasan bijak.
Selangkah maju ke depan,
empat langkah ke belakang,
kita takkan beranjak.
Mereka, bermain Tuhan.
Merasa benar, menjajah nalar.
Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya.
Individu, individu merdeka.
Selamat tinggal, era kemajuan,
lupakan harapan dan kehidupan.
Menjauh dari akar masalah,
mendekatkan kepada kebodohan yang dipertahankan.
Privasi. Seni.
Siapa engkau yang menghakimi?
Masih banyak masalah, dan lebih krusial,
tidak bicara asal.
Mereka bermain Tuhan.
Merasa benar, menjajah nalar.
Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya.
"Sudahkah merdeka? Sudahkah dirimu merdeka?"
Individu, individu merdeka."
Menurut saya lagu ini memang menggambarkan situasi di negara kita.
Seperti praktek kekerasan di jalanan dengan berlindung dibalik agama,
menghalangi jamaah agama lain untuk beribadah (juga dengan kekerasan).
Apakah semua sudah lupa dengan semboyan negara kita "Bhinneka Tunggal Ika" ?
Apakah "Toleransi dan kerukunan umat beragama" hanyalah sebuah kalimat yang sering dijumpai di pelajaran pendidikan moral di sekolah-sekolah?
Apakah keanekaragaman budaya dan kepercayaan di Indonesia yang dulu dibanggakan, dianggap produk orde baru sehingga harus dibuang?
Seringai - Bermain Tuhan
Album : Serigala Militia
Lirik :
Individu, individu merdeka.
Selamat datang di era kemunduran,
pikiran tertutup jadi andalan.
Praduga tumbuh tenteram,
menghakimi sepihak, sebar ketakutan.
Membakukan persepsi, bukan jadi jawaban
atau gagasan bijak.
Selangkah maju ke depan,
empat langkah ke belakang,
kita takkan beranjak.
Mereka, bermain Tuhan.
Merasa benar, menjajah nalar.
Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya.
Individu, individu merdeka.
Selamat tinggal, era kemajuan,
lupakan harapan dan kehidupan.
Menjauh dari akar masalah,
mendekatkan kepada kebodohan yang dipertahankan.
Privasi. Seni.
Siapa engkau yang menghakimi?
Masih banyak masalah, dan lebih krusial,
tidak bicara asal.
Mereka bermain Tuhan.
Merasa benar, menjajah nalar.
Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya.
"Sudahkah merdeka? Sudahkah dirimu merdeka?"
Individu, individu merdeka."
Wednesday, 11 August 2010
gombal dikit boleh dong
cowo : I want to be superhero! guess my name.
cewe : hmm..batman?
cowo : nope
cewe : superman?
cowo : oh come on girl, I aint gay. You can do better.
cewe : ok, I give up. Tell me your name.
cowo : YOURMAN
cewe : ...
cewe : hmm..batman?
cowo : nope
cewe : superman?
cowo : oh come on girl, I aint gay. You can do better.
cewe : ok, I give up. Tell me your name.
cowo : YOURMAN
cewe : ...
Win Vs Mac
Laptop saya memang bukan laptop super canggih dengan performa yang luar biasa. Laptop saya adalah laptop medioker dengan kapasitas RAM yang sudah ketinggalan jaman, hanya 512 MB. Laptop saya adalah laptop lungsuran dari ayah saya yang lebih memilih untuk menggunakan netbook karena ukurannya yang kecil dan praktis dibawa - bawa.
Laptop ini memang khusus saya pakai untuk menunjang studi s2 saya, dan sesekali untuk mengerjakan proyek. Sedangkan PC saya yang speknya lumayan, memang saya peruntukan khusus untuk gaming, dan hanya untuk gaming. Saking khususnya tidak ada software office ataupun pdf reader di PC saya.
Saat ini saya sedang menyusun thesis, dan kebetulan topik yang saya ambil memerlukan suatu software tertentu. Beberapa waktu lalu ketika saya sedang mengerjakan thesis, laptop saya hang karena saat itu saya membuka beberapa program yang konsumsi memorynya cukup besar.
Teman saya ada yang bilang ke saya, "Makanya pake MAC dong, window sih apaan".
Saya diam aja mendengar teman saya bicara begitu ke saya. Lalu ketika laptop saya sudah bisa bekerja normal kembali, sambil sok - sok sibuk depan laptop saya nyeletuk, "Apa sih hebatnya MAC?". Teman saya yang merupakan seorang apple fanboy pun bicara panjang lebar tentang fitur - fitur yang ada di Macbook pro terbaru miliknya. Teman saya ini geek, dia mengerti betul mengenai komputer, jaringan, dan web. Karena sudah pusing dengan bahasanya yang tidak saya mengerti, akhirnya saya bilang "MAC support software - software ini gak? (sambil nunjuk ke layar monitor laptop saya) Gw ga butuh fitur neko - neko, yang gw butuh cuma software - software ini! Kalo ga support buat gw sih sampah, as simple as that!". Teman saya pun diam.
Bukan saya iri dengan macbook pro terbarunya yang berbanderol belasan juta, saya juga mampu beli macbook pro seperti dia. Tetapi untuk saya, hanya orang bego yang sudah mahal - mahal beli macbook pro tetapi diisi dengan OS microsoft, mubazir! Dengan harga segitu saya bisa dapet sony vaio atau fujitsu dengan performa yang tinggi dan support untuk kegiatan saya. Tapi sekali lagi, buat apa buang uang? Laptop bekas bapak saya ini masih cukup mumpuni koq. Bentuk sih biasa, tapi gaya sih nomor 1000 yang penting fungsi. Kebanyakan gaya yang ada nanti malah DO.
Laptop ini memang khusus saya pakai untuk menunjang studi s2 saya, dan sesekali untuk mengerjakan proyek. Sedangkan PC saya yang speknya lumayan, memang saya peruntukan khusus untuk gaming, dan hanya untuk gaming. Saking khususnya tidak ada software office ataupun pdf reader di PC saya.
Saat ini saya sedang menyusun thesis, dan kebetulan topik yang saya ambil memerlukan suatu software tertentu. Beberapa waktu lalu ketika saya sedang mengerjakan thesis, laptop saya hang karena saat itu saya membuka beberapa program yang konsumsi memorynya cukup besar.
Teman saya ada yang bilang ke saya, "Makanya pake MAC dong, window sih apaan".
Saya diam aja mendengar teman saya bicara begitu ke saya. Lalu ketika laptop saya sudah bisa bekerja normal kembali, sambil sok - sok sibuk depan laptop saya nyeletuk, "Apa sih hebatnya MAC?". Teman saya yang merupakan seorang apple fanboy pun bicara panjang lebar tentang fitur - fitur yang ada di Macbook pro terbaru miliknya. Teman saya ini geek, dia mengerti betul mengenai komputer, jaringan, dan web. Karena sudah pusing dengan bahasanya yang tidak saya mengerti, akhirnya saya bilang "MAC support software - software ini gak? (sambil nunjuk ke layar monitor laptop saya) Gw ga butuh fitur neko - neko, yang gw butuh cuma software - software ini! Kalo ga support buat gw sih sampah, as simple as that!". Teman saya pun diam.
Bukan saya iri dengan macbook pro terbarunya yang berbanderol belasan juta, saya juga mampu beli macbook pro seperti dia. Tetapi untuk saya, hanya orang bego yang sudah mahal - mahal beli macbook pro tetapi diisi dengan OS microsoft, mubazir! Dengan harga segitu saya bisa dapet sony vaio atau fujitsu dengan performa yang tinggi dan support untuk kegiatan saya. Tapi sekali lagi, buat apa buang uang? Laptop bekas bapak saya ini masih cukup mumpuni koq. Bentuk sih biasa, tapi gaya sih nomor 1000 yang penting fungsi. Kebanyakan gaya yang ada nanti malah DO.
Subscribe to:
Posts (Atom)